Kisah Para Konglomerat (Serial 6): Jerry Ng, dari Bankir Jadi Tajir, Arsitek di Balik BTPN dan Bank Jago

JAKARTA – Nama Jerry Ng didapuk sebagai salah satu orang terkaya dunia versi Forbes 2021.

Ia menempati posisi ke delapan dalam jajaran ‘Crazy Rich Indonesia‘ sekaligus ke-1223 dunia berdasar perhitungan real time yang diakses TrenAsia pada Kamis,29 April 2021.

Per tanggal tersebut, kekayaan Jerry mencapai US$2,7 miliar atau setara Rp39 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per dollar AS). Jumlah ini 4 persen atau sekitar US$103 juta, setara dengan Rp1,4 triliun.

Jerry Ng cukup dikenal di dunia perbankan Indonesia. Meski begitu, kemunculan Jerry Ng dalam daftar nama orang tajir dunia ini merupakan hal baru. Lalu, siapakan sosok Jerry Ng ini?

Jerry lahir di Pontianak pada 2 Juli, 56 tahun yang lalu. Keluarganya sangat mengedepankan pendidikan. Ini bisa terlihat dari rekam jejak Jerry yang selalu menempuh pendidikan tingginya di luar negeri.

Ia menempuh pendidikan sarjananya di Universitas Washington, Amerika Serikat untuk jurusan Administrasi Bisnis. Seselesainya menempuh pendidikan pada 1986, ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan Citibank.

Jerry berkarir di Citibank selama kurang lebih 5 tahun. Puncaknya, Ia menempati posisi sebagai Assistant Vice President Consumer Services Group di Citibank.

Pada 1991, ia meninggalkan Citibank. Setelah itu, Ia dipercaya mengemban amanah dan diberikan jabatan lebih tinggi di sejumlah perusahaan keuangan.

Dalam kurun waktu sembilan tahun yakni antara 1991-2000, Nama Jerry tercatat sebagai Deputi Presiden Direktur PT Bank Universal,
Presiden Direktur PT Federal International Finance, serta Komisaris PT Astra Colonial Mutual Group Life.

Memasuki tahun 2000, Jerry dipercaya sebagai Deputi Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional bidang Unit Restrukturisasi Perbankan dan Penasihat BPPN. Jabatan tersebut dipegangnya dalam waktu kurang lebih setahun.

Pada Mei 2021, Ia merapatkan diri ke Bank BCA dan diamanahkan jabatan sebagai Deputi Presiden Direktur hingga 2002.

Selepas dari BCA, pria berzodiak Cancer ini mendapat awardee Eisenhower Fellowship Program. Beasiswa tersebut ditujukan kepada para pemimpin dan aktivis dari seluruh dunia untuk membuat perubahan sosial.

Lewat program tersebut, Jerry diketahui mengikuti pendidikan di dua kampus ternama, yakni Stanford Graduate School of Business
dan Harvard Business School untuk program manajemen senior.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, bergabung dengan Bank Danamon sebagai direktur. Di sana, kiprah Jerry mulai disorot banyak mata lantaran banyak menghasilkan dobrakan inovasi dalam dunia perbankan.

Pada 2004, Jerry mencanangkan Danamon Simpan Pinjam (DSP), sebuah unit dari Bank Danamon Indonesia yang fokus memberikan kredit mikro (mass market) untuk para pedagang tradisional. Kehadiran Danamon Simpan Pinjam kala itu sempat membuat was-was para kompetitor.

Pada 2005, Jerry diangkat menjadi wakil direktur Bank Danamon. Namun setelah dua tahun berkarir di bank swasta tersebut, Ia memilih hengkang.

Lepas dari Bank Danamon Indonesia, Jerry vakum selam satu bulan. Setelah itu, pria kelahiran 1965 tersebut dipercaya Texas Pacific Group Indonesia menjadi Head of Indonesia dan Penasihat Khusus untuk kawasan Asia Tenggara.

Tugasnya adalah mencari dan mengelola investasi Texas Pacific Group di sektor keuangan terutama di Indonesia maupun kawasan Asia lainnya.

Texas Pacific Group sendiri merupakan perusahaan private equity asal Amerika Serikat yang mengelola dana kelolaan lebih dari US$ 30 miliar kala itu.

Di bawah kendali Jerry Ng, Texas Pacific Group Indonesia akhirnya mengakusisi 71,61% saham Bank BTPN senilai US$ 195 juta pada Maret 2008 dan pada Juli 2008.

Setelahnya, Jerry Ng resmi ditunjuk menjadi direktur utama Bank BTPN oleh Texas Pacific Group melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Banyak Lakukan Gebrakan Positif

Sepanjang kiprahnya di BTPN, Ia berhasil membawa perubahan besar pada bank tersebut. Sama seperti saat berada di Danamon, tangan dinginnya menghasilkan sejumlah inovasi yang bahkan lebih baik dibanding saat ia berada di Danamon.

Jerry mendiversifikasi bisnis BTPN dari yang awalnya hanya melayani para pensiunan menjadi Bank dengan beragam portofolio bisnis.

Ia mencanangkan BTPN Tunas Usaha Rakyat, yakni penyaluran modal yang menyasar segmen prasejahtera produktif dengan kredit di bawah Rp2 juta.

Ia juga merilis platform digital untuk BTPN dengan meluncurkan BTPN Wow! untuk menyasar below consuming class. Disusul dengan BTPN Jenius pada Agustus 2016 yang menyasar consuming class dan masyarakat yang melek digital.

Tak sampai disitu, Jerry Ng terus berinovasi dengan melakukan rebranding untuk segmen pensiunan Bank BTPN menjadi BTPN Purnabakti,.

Ia juga meluncurkan Mitra Usaha Rakyat (BTPN MUR), BTPN MitraBisnis, lalu menggabungkan misi bisnis dengan misi sosial (Daya) dan produk pendanaan dengan nama Sinaya untuk mendukung kredit pensiunan dan Mitra Usaha Rakyat.

Sebelas tahun berkiprah di BTPN, Ia mampu menjadikan sebuah bank berukuran kecil menjadi sebuah bank besar.

Pada 2007, BTPN tercatat hanya memiliki aset sekitar Rp 10,6 triliun, dana pihak ketiga Rp 7,85 triliun, dan penyaluran kredit Rp 8,8 triliun.

Dengan tangan dingin Jerry, BTPN bertansformasi menjadi bank berukuran besar dengan aset tembus Rp 101,9 triliun dan mencetak laba bersih hampir Rp 2 triliun.

Atas prestasinya membangun BTPN, Jerry dianugrahi gelar sebagai Bankir of The Year oleh Majalah Infobank pada 2019.

Selang sebelas tahun memimpin Bank BTPN, Jerry Ng memutuskan berhenti dari posisinya sebagai direktur utama Bank BTPN pada 2019.

Punya Bank Sendiri

Delapan bulan setelah mengundurkan diri dari posisinya sebagai direktur utama Bank BTPN, Jerry Ng diketahui tercatat sebagai pemilik sekaligus direktur utama PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia (MEI).

Lewat perusahaannya, Ia memutuskan untuk mengakuisisi saham PT Bank Artos Indonesia Tbk. Akuisisi Bank Artos dilakukan Jerry bersama Wealth Track Technology Limited (WTT), perusahaan yang dimiliki oleh Patrick Sugito Walujo, co-founder Northstar Group sekaligus menantu dari konglomerat T.P Rachmat.

Adapun rincian saham yang dimiliki Jerry dan Patrick kala itu adalah 37,65% atau 454,15 juta lembar saham untuk Jerry dan 13,35% atau 161,03 juta untuk Patrick.

Dibeli seharga Rp395 per lembar sahamnya, Jerry dan Patrick harus merogoh kocek sekitar Rp179,39 miliar dan Rp63,6 miliar.

Berdasarkan keterangannya kala itu, Ia sengaja membeli Bank Arto untuk dijadikan bank digital. Ia mengumpamakan pembelian Bank Arto saat itu sebagai upaya ‘membangun rumah baru’. Nama Bank Arto kemudian berubah menjadi Bank Jago setelah berpindah ke tangan Jerry.

Pada April 2020, Bank Jago (ARTO) merampungkan pelaksanaan penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Target dana mencapai Rp1,34 triliun. Dari aksi tersebut, Jerry menambah jumlah kepemilikan saham di ARTO dengan membeli di harga Rp 139 per lembar saham.

Rinciannya, Ia membeli 3.633.225.000 lembar saham ARTO di harga Rp 139 per saham. Dari aksi rights issue itu, ARTO naik kelas masuk kelompok Bank BUKU II dengan tambahan dana segar Rp 1,3 triliun.

Bank Jago kemudian kembali mengadakan rights issue kedua. Jerry kembali mengeksekusi haknya sehingga kepemilikannya bertambah dari 4.087.378.125, menjadi 4.129.978.125 saham.

Kala itu, harga eksekusi saham ARTO pada dipatok seharga Rp 2.350 per saham. Dari aksi rights issue kedua ini, ARTO kembali naik kelas menjadi Bank BUKU III, dengan jumlah modal mencapai Rp 8 triliun.

Saat ini, saham Bank Jago melesat hingga Rp10.375 per lembarnya. Melesatnya nilai saham Bank Jago didorong oleh berbagai peristiwa.

Peristiwa pertama adalah PT Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay) membeli saham ARTO pada 18 Desember 2020 di harga Rp 1.150 per saham. Dompet Karya Anak Bangsa tak lain merupakan anak usaha PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek).

Sedangkan peristiwa kedua adalah masuknya GIC Private Limited, lembaga pengelola dana pemerintah Singapura, menjadi pemegang saham ARTO dengan anggaran Rp 3,15 triliun lewat aksi rights issue II ARTO yang digelar Maret 2021 pada harga Rp 2.350 per saham.

Berkat melambungnya Saham ARTO hingga berkali-kali lipat, harta kekayaan Jerry sebagai pemegang saham sekaligus pemilik bank ikut melesat.

Selamat dari Bom Boston

Jerry diketahui pernah berada di sekitar kejadian bom di garis finish dalam lomba marathon di Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat pada 2013 lalu.

Berdasarkan informasi dari VOA kala itu, Jerry yang kala itu masih menjabat sebagai direktur BTPN tengah mengikuti lomba maraton bersama istrinya.

Ia berhasil selamat dari ledakan tersebut lantaran berada sekitar satu kilometer dari garis finish. Kala itu, Ia bahkan tidak mendengar ledakan.

Saat itu, Jerry hanya mengatakan bahwa dirinya diberhentikan bersama dengan peserta lainnya yang belum mencapai garis finish.

“Saya masih agak bingung, soalnya informasinya juga masih agak simpang siur. Jadi mereka hanya mengatakan bahwa terjadi insiden di garis finish dan para pelari harus berhenti. Itu saja. Dan panitia kemudian meminta semua pelari untuk menunggu informasi selanjutnya,” katanya pada 2013 lalu seperti dikutip dari VOA.

Sebagai Informasi, Jerry memang sering mengikuti lomba Marathon. Bahkan Ia rela pergi ke luar negeri untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Berdasar keterangan, Marathon yang ia ikuti di Boston ditujukan untuk misi sosial.

Artikel ini merupakan serial laporan khusus yang akan bersambung terbit berikutnya berjudul “Kisah Para Konglomerat.“

  1. Kisah Para Konglomerat (Serial 1): Michael Bambang Hartono, Dari Pabrik Mercon Sampai Jadi Paling Kaya

2. Kisah Para Konglomerat (Serial 2): Sri Prakash Lohia, Jualan Benang hingga Berlimpah Uang

3. Kisah Para Konglomerat (Serial 3): Bos Petrokimia Prajogo Pangestu, dari Sopir jadi Tajir

4. Kisah Para Konglomerat (Serial 4): Chairul Tanjung, Anak Wartawan yang Jadi Jutawan

5. Kisah Para Konglomerat (Serial 5): Eddy Kusnadi, dari Jualan Komputer hingga Jadi Raja Media dan Start Up Unicorn

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *